JANTUNG REVOLUSIONER DARI BATAVIA

Oleh: M. Reza S. Zaki

Sejarah lahir dengan segala kekurangannya, maka generasi setelah sejarah wajib mengamandemen sejarah itu sendiri agar poros pergerakan ini dapat dikenang oleh zaman.

Muhammad Reza Syarifuddin Zaki yang lebih akrab dipanggil zaki lahir di Jakarta, 27 November 1989. Ia merupakan anak pertama dari pasangan H. Harsono Sony, SE dan Hj. Suprapti Syamsuddin,SH. Pada usia 4 tahun orang tuanya harus berpisah dan akhirnya ia sekarang hidup bersama ibu kandungnya dan ayah tirinya yang bernama H.Undang Hidayat SH. Perjalanan masa kecilnya yang memang begitu keras karena didikan ibunya memang membuahkan hasil. Beragam karakter yang masuk dan menginfiltrasi ke dalam hidupnya terbentuk dari komitmen dan keyakinan yang dibangun ibunya dari mulai ia kecil. Ibunya selalu mengatakan bahwa “ambilah setiap kesempatan yang orang lain berikan, jangan pernah mengecewakan mereka”. Nasihat tersebut rupanya memberikan makna dalam mendefinisikan setiap kejadian yang ia alami selama ini. Kerukunan yang menyelimuti hari-hari ia di dalam keluarga membuatnya semakin kokoh dengan cita-cita yang terlintas di benak seorang pemuda yang baru saja berumur 22 tahun ini. Keunikan yang dimiliki olehnya adalah kemampuan dalam memimpin yang sudah muncul dan tumbuh semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Kemampuan kepemimpinannya ditunjukan ketika ia menjadi Ketua Pramuka di SDN 10 Jakarta Timur yang berkali-kali terjun dalam kejuaraan Jambore di DKI Jakarta. Tidak hanya bergelut di dunia Pramuka, akan tetapi ia juga aktif sebagai Dokter Kecil dan anggota dari PMI Jakarta Timur. Di masa-masa ketika ia duduk di bangku SMP, dia mulai menekuni dunia Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ). Di dunia MTQ inilah dia berulang kali menjadi Juara. Kemampuannya dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran ternyata muncul lantaran ada sebuah kompetisi yang mengharuskan ia ikut, walaupun itu adalah pengalaman pertamanya. Pengalaman tersebut yang menghantarkan ia selalu menjadi juara MTQ, Adzan, dan Pidato Islam di Jakarta Timur.

Cahaya pagi bagaikan sebilah pisau tajam yang membelah jubah malam. Perlahan bumi yang renta menemukan cahaya kehidupannya kembali, terlahir segar lagi bagaikan hamparan bunga yang baru mekar dari kuncupnya. Fajar menghamparkan cahayanya yang keemasan ke atas kubah lembayung malam, sementara matahari, setelah terbangun dari tidurnya, mengecat cakrawala dengan warna merah mawar. Pada tahun 2005 akhirnya ia memasuki dimensi kehidupan yang lebih menantang yakni bangku SMA. Setelah bergelut dengan Ujian Nasional (UN), akhirnya ia dipertemukan dengan SMA yang telah memantik kehidupannya di panggung politik. SMA itu adalah SMAN 89 Jakarta, dimana sekolah tersebut berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang pluralis dan agamis. Kehidupan orang-orang disana sangatlah sederhana dan merakyat. Ada sebuah pasar illegal yang berada di dekat SMAN 89 Jakarta. Disebut illegal karena memang mengganggu arus lalu lintas dan kenyamanan masyarakat terutama pelajar yang ingin berangkat ke sekolah. Akan tetapi aktifitas itu lama-kelamaan mulai teresapi dan menjadi keluarga bagi siapa saja yang melewati tempat itu. Di SMAN 89 Jakarta ia mulai dikenal ketika menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS) selama 3 hari. Sikap kritis dan skeptis yang dibangun ia selama 3 hari tersebut memancarkan ketertarikan senior-seniornya untuk merekrut ia ke dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Sebelum ia akhirnya meneguhkan hati untuk bergabung dengan OSIS di SMAN 89 Jakarta, ia juga dipercaya oleh teman-temannya menjadi Ketua Kelas di X.3. keteladanan yang ia bangun dan pelihara selama menjadi Ketua Kelas di X.3 berujung pada keinginan teman- temannya untuk mencalonkan ia menjadi Ketua OSIS SMAN 89 Jakarta pada saat ia duduk di kelas XI. Pada saat itu ada 2 calon yang akhirnya maju dan masuk ke dalam bursa pencalonan yakni Zaki dan Agung. Ia harus bersaing dengan anak Paskibra SMAN 89 Jakarta yang memiliki massa dan prestasi yang cukup disegani di sekolah. Akan tetapi semua diluar dugaan, karena zaki berhasil meraih suara yang cukup tinggi dalam kompetisi pemilihan Ketua OSIS tersebut. Tatapan mengudara menerjemahkan bahwa ada sebuah babak baru yang harus dilewati dengan barisan anak muda yang penuh dengan mimpi. Di masa-masa ia menjadi Ketua OSIS SMAN 89 Jakarta, ada banyak terobosan yang dilakukan layaknya seorang Ali Sadikin (Mantan Gubernur DKI Jakarta) yang berhasil membangun Jakarta menjadi kota Metropolitan. Kebiasaannya dalam menulis dan mengkritik akhirnya membuat teman-temannya semakin mengenal dan mengenang zaki sebagai Ketua OSIS yang melampaui zaman. Pikiran-pikirannya dipengaruhi oleh Editorial Media Indonesia dan buku-buku/literasi hukum yang menjadikan dia sebagai kritikus yang paling sering dipanggil oleh Wakil Kesiswaan SMAN 89 Jakarta. Kegigihannya dalam dunia politik mendorong ia mendirikan Forum Komunikasi OSIS (FKO) Jakarta Timur. Di awal-awal pendirian, zaki yang juga sebagai Ketua FKO Jakarta Timur memang mengalami hambatan dalam proses berdialog dengan teman-teman di SMA lain, akan tetapi hubungan untuk terus mempertahankan idealisme pembangunan gerakan ini terus meletup-letup sampai akhirnya pada tahun 2009 FKO Jakarta Timur diresmikan oleh Walikota Jakarta Timur menjadi wadah OSIS yang formil. Zaki tidak hanya berkutat di OSIS saja yang notabene adalah organisasi di dalam sekolah. Ia juga terpilih sebagai Duta Terumbu Karang Se-Indonesia pada tahun 2006. Aktifitas ia selama menjadi Duta Terumbu Karang Se-Indonesia adalah meninjau daerah Pantai Dadap, Indramayu, Jawa Barat dan kesejahteraan Nelayan di daerah pesisir. Kegiatan tersebut ternyata memberi kesan tersendiri bagi zaki karena dapat dipertemukan dengan pelajar-pelajar terbaik di Seluruh Indonesia.

Ketika malam telah melingkarkan selimut kain surga, dihiasi mutiara bintang-bintang, zaki akhirnya mengambil nafas sejenak dari hiruk pikuknya panggung politik yang benar-benar melelahkan. Pada saat ia duduk di kelas XII, ia mulai memantapkan kredo untuk menyelesaikan masa SMA-nya dengan baik dan memuaskan. Ia bertekad agar dapat lulus dengan hasil terbaik dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hari-hari zaki diisi dengan belajar dan membaca buku serta berdiskusi. Ketekunannya ini ternyata membuahkan hasil pada saat pengumuman kelulusan UN. Tidak hanya itu, bahkan ia berhasil mendapatkan 4 PTN yang merupakan peringkat atas di Indonesia. Zaki berhasil diterima di Fakultas Hukum Unhas, Fakultas Hukum UGM, Fakultas Hukum Undip, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Ui. Dari proses berdiskusi dengan banyak pihak, akhirnya zaki memutuskan untuk mengambil Fakultas Hukum UGM Program Kelas Internasional. Pada masa-masa kuliah, zaki masuk pada ruang publik yang begitu berbeda dengan ruang publik yang ia rasakan di Jakarta. Ia merasakan ada nuansa intelektual yang begitu kental di Yogyakarta. Ia mengibaratkan bahwa setiap celotehan mahasiswa-mahasiswa yang ada di Yogyakarta bisa jadi berbuah menjadi konsepsi dasar yang dapat berpengaruh besar bagi bangsa ini dan dunia ini. Kenyamanannya dalam berinteraksi di Yogyakarta membuatnya semakin penasaran untuk kembali terjun ke dunia politik yang lebih tinggi lagi. Karir politik kampusnya diawali ketika dia berhasil memenangkan Pemilihan Raya (PEMIRA) di FH UGM dalam pencalonan sebagai anggota Perwakilan Elemen Mahasiswa (PEM) FH UGM. Pada tahun 2009, ia bersama 10 teman lainnya menjadi delegasi pertama di Indonesia dalam ajang Harvard World Model United Nations (WMUN) di Belanda. Pada kesempatan itu ia di duetkan dengan Mahasiswa Berprestasi UGM tahun 2009 yakni Michelle Ayu Chinta Kristy di bagian World Trade Organization (WTO). Pengalaman selama 5 hari tersebut merupakan hal berharga dalam melejitkan sebuah impian seorang zaki yang sangat mengidolakan Sutan Sjahrir sang negarawan humanis dan internasionalis.

Beberapa bulan kemudian ia juga diundang untuk mengikuti kegiatan serupa yakni Stockholm Model United Nations (SMUN), Swedia. Pada kesempatan tersebut ia bersama 2 orang temannya yakni Giovanni Van Empel dan Ayunda Tafsa Afifa merupakan delegasi pertama dari Indonesia. Ternyata kesimpulan yang dapat diambil dari 2 kali merasakan konferensi Internasional adalah “kaum barat bisa mengubah dunia hanya dengan secangkir teh atau kopi”. Maksud dari kalimat tersebut adalah dimana kaum barat memiliki kemampuan bahasa asing yang sangat baik, disamping itu mereka juga memiliki kemampuan mempengaruhi orang dengan begitu cermat dan terarah. Sehingga diplomasi informal yang dia lakukan sering kali memberikan hasil dan dampak yang amat besar bagi sebuah resolusi. Generasi Indonesia seharusnya bisa belajar metode diplomasi seperti ini sehingga kita mampu membuat manifesto internasionalisasi yang baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita. Pada tahun yang sama, zaki mewakili UGM mengikuti Moot Court Competition (MCC) Nasional Piala Prof. Soedarto II di Undip, Semarang. Pada ajang kompetisi tersebut FH UGM berhasil menjadi Juara 2 Nasional. Memang perjuangan yang amat panjang dan berat apabila kita urutkan rentetan kejadian demi kejadian. Akan tetapi hal yang paling berharga adalah ketika kita mampu menginspirasi orang lain untuk bisa jauh lebih sukses daripada kita.

Pada tahun 2010 zaki mulai melebarkan sayap politiknya di level fakultas dan universitas. Terbukti pada tahun itu dia menjabat sebagai Kepala Departemen Kajian Strategis dan Kebijakan (Kastrat) Dema Justicia FH UGM dan menjabat pula sebagai Ketua Dewan Perwakilan Fakultas (DPF) KM UGM. Selama menjabat ia sangat mengedepankan masalah profesionalisme kerja. Banyak orang meragukan bahwa zaki akan mampu memegang kedua amanah tersebut dengan baik. Akan tetapi pada akhir tahun justru Departemen Kastrat Dema Justicia FH UGM berhasil meraih penghargaan dan tercatat menjadi Departemen yang mampu menjalankan program dengan baik dan terukur. Disamping itu juga DPF KM UGM berhasil memantik lahirnya legislatif-legislatif di fakultas melalui acara “Babies Parliament”. Pada kondisi seperti itu, kepemimpinannya memang benar-benar diuji dengan jelas. Pada tahun yang sama, zaki bersama teman-temannya terpilih mewakili UGM untuk hadir pada acara “Student Movement in ASEAN”, Malaysia. Pada kesempatan itu perwakilan UGM sedang membangun sebuah jaringan internasional untuk menciptakan relasi kekuasaan mahasiswa di ASEAN. Forum tersebut amat penting dikarenakan rusaknya kondisi bangsa Indonesia yang juga tidak terlepas dari kebijakan yang dibuat dunia internasional dalam hal ini ASEAN. Keberadaan mahasiswa ASEAN harusnya dapat menjadi bagian dari solusi ekonomi, hukum, politik, sosial & budaya yang ada di ASEAN.

Perjalanan “Student Movement in ASEAN” tersebut akan dilanjutkan pada tahun 2011 di Thailand. Dan hasil pertemuan dengan 2 negara tersebut akan di realisasikan dengan kegiatan “International Conference of ASEAN Young Leaders” pada bulan Oktober 2011. Konferensi ini akan melahirkan kesepakatan forum “Student Movement in ASEAN” dan akan menghadirkan tokoh-tokoh besar di ASEAN. Pada tahun 2011 dia kembali terjun ke dunia politik kampus dengan bergabung menjadi Menteri Kajian Strategis (Kastrat) BEM KM UGM serta menjadi Presiden Future Leaders Party UGM. Posisi ia sebagai Menteri Kastrat BEM KM UGM ternyata mendorongnya juga menjadi Kordinator Isu Korupsi Nasional BEM Seluruh Indonesia tahun 2011. Aktifitasnya yang bergelut dengan kajian dan diskusi semakin membuatnya tajam dalam menganalisa permasalahan-permasalahan bangsa. Kebiasaan ini pun di dukung dengan kegemarannya berbelanja buku sosial, hukum, ekonomi, politik, dan sastra. Gerakan yang paling progresif ketika di awal kepengurusan adalah menggelontorkan lahirnya BEM Se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang kemudian mengangkat isu yang cukup sensitif yakni Rancangan Undang-undang Keistimewaan (RUUK) DIY.

Dalam gerakan yang dibangun ini, bertepatan dengan Sidang Paripurna di DPR RI. BEM Se-DIY kemudian membuat satu nota kesepahaman yang diajukan kepada pihak Keraton untuk bisa di terima dan dijalankan. BEM Se-DIY tidak hanya mendukung penetapan, akan tetapi juga menuntut Pihak Keraton dalam hal ini Sultan Hamengkubwono X untuk bisa memajukan pendidikan, ekonomi, sosial , dan kesehatan, yang ada di DIY. Sikap kritis konstruktif itu yang sekarang jarang dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Aktivis pergerakan biasanya terjebak pada ritualitas gerakan yang simbolik dan hanya bersifat sementara waktu. Aktivis pergerakan sering lalai dalam memaknai substansi permasalahan. Tapi gerakan yang dimotori oleh Kementrian Kastrat BEM KM UGM ini memberikan satu posisi tawar yang cukup besar di kancah nasional. Keaktifannya dalam dunia gerakan juga memberi ruang bagi dia untuk menjadi orang nomor satu di Partai Mahasiswa UGM yang sering disebut Future Leaders Party (Partai Pemimpin Masa Depan). Posisinya sebagai Presiden Future Leaders Party UGM membuatnya terus berfikir keras tentang nasib ketatanegaraan pemerintahan mahasiswa UGM. Bahkan di beberapa program kerjanya ia amat ingin mengadakan 2 buah kompetisi yang berkaitan langsung dengan masa depan UGM. Pertama adalah kompetisi membuat Film Kebangkitan UGM di tahun 2049 dan kedua kompetisi pemimpin masa depan. Kedua hal tersebut akan diwujudkannya pada akhir tahun 2011 atau awal tahun 2012. Keberagaman kemampuan leadership yang ia miliki memang menarik kesimpulan bahwa politik adalah pendamping hidupnya yang paling setia.

Walaupun dia sibuk berorganisasi, tapi dia tetap berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik lainnya. Pria yang lahir di Jakarta ini pun meraih 2 beasiswa yakni TOTAL Oil & Gas dan PPSDMS Nurul Fikri. Zaki kini tinggal di asrama PPSDMS Nurul Fikri bersama 29 mahasiswa UGM lainnya. Di asrama tersebut ia terjun sebagai Kordinator Community Development (Comdev) yang bernama “Kampung Sejahtera”. “Kampung Sejahtera” ini bergerak pada zona cerdas, zona sehat, zona kreatif, dan zona ekonomi. Pria yang tercatat sebagai Peserta PPSDMS Nurul Fikri terbaik Nasional ini pada dasarnya lebih tertarik bergerak di zona cerdas yang berkaitan dengan pendidikan. Ketertarikannya ini disebabkan karena cita-citanya yang ingin menjadi Menteri Pendidikan Nasional RI pada tahun 2039. Di zona cerdas, ia bersama teman-temannya mengembangkan Motor Perpustakaan Keliling yang bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Indonesia Menyala, Dinas Sosial DIY, BSMI Depok, dll. Gerakan Motor Perpustakaan Keliling ini memang begitu sederhana yakni memberikan fasilitas untuk membaca buku-buku yang digemari, kemudian ada diskusi dan bedah buku, serta Bank Buku. Kegiatan-kegiatannya ini memang ditujukan khusus pada pengabdian kepada masyarakat. hal ini perlu ditumbuhkan karena pemimpin di masa yang akan datang haruslah seperti Ir.Soekarno yang mampu mensejajarkan dirinya dengan tokoh dunia dan juga dengan rakyatnya. Begitu pun Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan “ Bagi saya, keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa”.

Selain bergerak di bidang kajian dan pemberdayaan masyarakat, dia juga merupakan penulis yang terinspirasi dari seniornya yang bernama Lakso Aninditho (Mahasiswa Fakultas Hukum UGM angkatan 2005). Gerakan jemarinya pun sering menghiasi koran-koran yang ada di Nasional maupun Lokal. Bahkan pada tahun 2010 di bersama teman-temannya menyelesaikan satu buah buku berjudul “Dari UGM Untuk Indonesia”. Kemampuan lainnya adalah sebagai orator. Tercatat ia pernah menjadi Juara I Lomba Orasi tingkat DIY pada tahun 2011 yang diadakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pada tahun yang sama ia juga menjadi Juara I Debat Politik Nasional di Institut Pertanian Bogor (IPB). Beragam prestasi yang ia raih sesungguhnya buah pendidikan yang diajarkan oleh orang tuanya semenjak ia masih kecil. Mimpi adalah akumulasi harapan dan perbuatan. Kalau kata Ir Soekarno “Banyak bicara, banyak bekerja”.

Pada akhir tahun 2011 ini ia akan menyelesaikan 2 buah buku yang membahas tentang bunga rampai solusi untuk bangsa dan tentang pengabdian masyarakat. keinginannya untuk terus bergerak takkan bisa dipagari oleh apapun kecuali kehendak pencipta yang absolut. Selama jantung revolusi ini masih berdetak kencang, maka disitulah Zaki akan tampil sebagai oase kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *